Mari belajar dari Piala Dunia Untuk Sepak Bola Indonesia

olegario benquerenca

Anda tentu menyimak bagaimana ketegasan para pengadil di Piala Dunia Afrika Selatan. Tanpa ragu mereka memberikan hukuman dan kartu. Sikap wajar pun terlihat dari para pemain dan tim-tim yang mendapat hukuman. Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini bisa muncul di Liga Indonesia?

Kasus pertama muncul ketika Carlos Vela mencetak gol saat melawan Afrika Selatan. Semua pemain Meksiko menganggap posisi Vela on side. Dalam aturan FIFA, jelas. Vela dalam posisi off-side. Namun bayangkan jika hal ini terjadi di Liga Indonesia? Mungkin Ravshan Irmatov dari Uzbekistan akan menjadi bulan-bulanan.

Kasus terbaru, gol ketiga Amerika Serikat yang dianulir wasit Coulibaly asal Mali saat melawan Slovenia. Padahal asisten wasit tidak mengangkat bendera dan dalam tayangan ulang jelas-jelas tidak terjadi pelanggaran. Kembali pertanyaan yang sama, bagaimana jika hal ini terjadi di Liga Indonesia?

Dua kasus di atas memiliki dua makna. Kasus pertama, pengetahuan akan peraturan permainan sepak bola mutlak dipahami semua praktisi sepakbola, pun berlaku bagi penonton. Kasus kedua menunjukkan arti betapa pun keputusan wasit, sikap sportif mutlak dikedepankan.

Sempat muncul pertanyaan, apakah Laws of The Game Piala Dunia berbeda dengan Liga Indonesia?

Tentu saja tidak. Semua federasi sepak bola di kolong bumi akan mempergunakan Laws of the Game yang sama dari FIFA. Namun mengapa begitu banyak kejadian di pertandingan-pertandingan Liga Indonesia yang cenderung kasar tak berbuah kartu? Lalu mengapa sikap tim-tim terlalu berlebihan menyikapi keputusan wasit?

Di bawah ini beberapa rangkuman peristiwa yang terjadi di Liga Indonesia yang mungkin Anda semua akan mengelus dada bahkan sampai jengah membacanya.

1.      Manager Persiwa Wamena Jhon Banua masuk ke dalam lapangan pertandingan. (DISL: Persiwa Wamena vs Pelita Jaya, 19 Februari 2010 dan Persiwa Wamena vs Persisam Samarinda, 7 Maret 2010)

2.      M. Ilham, Pemain Persija Jakarta melakukan protes berlebihan. (DISL: Persik Kediri vs Persija Jakarta, 31 Maret 2010).

3.      Asisten Pelatih Persija Jakarta Sudirman melempar wasit dengan kemasan air mineral. (DISL: Persija Jakarta vs Persib Bandung, 25 Maret 2010).

4.      Mahyadi Panggabean, Pemain Persik Kediri bertingkahlaku buruk memegang kepala wasit. (DISL : Persik Kediri vs Persitara Jakarta Utara, 11 April 2010).

5.      Asisten Manager Persisam Samarinda Agus masuk ke dalam lapangan pertandingan. (DISL: Persiwa Wamena vs Persisam Samarinda, 7 Maret 2010).

6.      Panpel Persipro Probolinggo melakukan pelemparan ke arah lapangan sehingga mengganggu jalannya pertandingan ketika menjadi tuan rumah melawan Persiram Raja Ampat, tanggal 26 Maret 2010.

7.      Panpel Persires Rengat Ando menampar wasit cadangan, membalikan meja, membanting papan pergantian (Div. Utama: Persires Rengat vs Persipasi Bekasi, tanggal 23 Februari 2010).

8.      Panpel PSSB Bireuen melakukan pemukulan terhadap wasit setelah pertandingan usai ketika menjadi tuan rumah melawan Semen Padang, tanggal 22 Maret 2010.

9.      Panpel PPSM Sakti Magelang melakukan pemukulan perut Asisten wasit setelah pertandingan usai ketika menjadi tuan rumah melawan PSIS Semarang, tanggal 22 Maret 2010.

10.  Panpel Persigo Gorontalo melakukan intimidasi, pemukulan terhadap perangkat pertandingan dan tim tamu ketika menjadi tuan rumah melawan Perseman Manokwari, tanggal 10 Maret 2010.

11.  Marcio Souza, Pemain Semen Padang melakukan tindakan penghinaan dan penganiayaan terhadap Asisten Wasit II. (Sriwijaya FC vs Semen Padang, tanggal 16 April 2010).

12.  Kurnia Meiga, menyerang wasit saat Arema bertanding lawan PKT Bontang, 13 September 2008.

13.  Insiden Yoyok Sukawi, terjadi pada laga DISL 2008/2009 antara PSIS vs PSMS di Stadion Jatidiri, Semarang, 9 Oktober 2008. Saat itu, Yoyok berusaha memukul wasit Sunaryo Joko yang dianggap banyak merugikan timnya saat jeda pertandingan. Wasit asal Jember itu akhirnya diganti dengan wasit asal Bandung, Dedy koswara.

Kasus-kasus di atas semua muncul karena kejadian di lapangan pertandingan tidak bisa direspon secara bijak oleh semua pihak.

Pihak wasit semakin tertekan dan cenderung membiarkan kejadian di luar konteks pertandingan sepak bola. Para pemain dan official tim tak menghormati wasit. Mereka seperti bukan manusia, dikejar-kejar, dikeroyok secara beramai-ramai. Dan sebagian oknum penonton pun seakan-akan bangga dengan kata-kata, maaf “dibunuh saja”.

Apakah pelajaran berharga dari gelaran akbar Piala Dunia sanggup mengubah wajah persepakbolaan Indonesia?

Oleh: Mahdi Manshuri

Bagikan

2 Komentar

  1. Djay says:

    Yang menjadi dasar di Indonesia bukan keadilan dari sang wasit, tapi Wasit tersebut ada unsur KKN apa tidak, itu yang jadi permasalahannya………Kebanyakan Pertandingan di Indonesia lebih banyak SABOTASEnya……… Pengatauran SKOR.

  2. galih says:

    saya hanya ingin meluruskan,kurnia meiga ketika dikatakan “menyerang wasit” kejadiannya bukan pada tahun 2010 melainkan tahun 2008 ketika kurnia meiga belum menjadi kiper terbaik di tanah air dan kiper utama d Tim AREMA INDONESIA(saat itu masih bernama AREMA MALANG)..

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar sesuai judul dan isi artikel menurut sudut pandang anda,namun komentar akan kami moderasi terlebih dahulu untuk menghindari bahasa yang mengandung penghinaan dan kata-kata kasar.

[+] kaskus emoticons nartzco
Copyright © 2010 SUPPORTER INDONESIA All rights reserved