Duit Harian Timnas mengalami Peningkatan

uang saku timnasManajer tim nasional Indonesia, Habil Marati, menaikkan uang saku harian yang diterima oleh punggawa tim Merah Putih.

Habil yang ditunjuk langsung oleh ketua umum PSSI Djohar Arifin Husein untuk menjadi manajer timnas per Jumat (10/8), menggantikan Ramadhan Pohan, langsung menyoroti masalah fisik dan juga finansial pemain.

“Insya Allah, mulai Jumat, saya resmi menggantikan beliau (Ramadhan Pohan). Saya ingin menghapus paradigma lama di tubuh manajerial PSSI. Saya akan lihat apa yang kurang dari kemarin dan memperbaikinya. Bila kita lihat timnas fisiknya kurang, mungkin mereka kurang minum susu, kita akan persiapkanlah yang seperti itu,” ujar Habil seperti yang dilansir Kompas.

Sebagai langkah awal, Habil akan menaikkan uang saku harian pemain timnas dan juga membenahi sistem dengan memberlakukan sistem kontrak. Selain itu, masalah komunikasi juga akan diperbaiki untuk mencegah ketidakjelasan informasi.

“Saya sedih melihat uang harian pemain timnas senior Rp 500.000. Ini timnas. Memalukan sekali. Akan saya naikkan menjadi Rp 1 juta per hari, dan kami akan pakai sistem kontrak. Misalnya 3 bulan atau setahun. Jika mereka dipakai selama 1 tahun di timnas, maka gaji mereka Rp 1 juta dikali berapa hari mereka berada di timnas. Hal ini saya lakukan demi menumbuhkan kebanggaan bermain di timnas, dan diharapkan dengan terpenuhinya kebutuhan mereka, pemain juga akan menunjukkan permainan terbaiknya,” tambah anggota DPR RI 2004-2009 ini.

“Komunikasi antara pemain, klub, dan pelatih harus melalui manajer. Maksudnya, bila ada masalah soal taktis, ya ke pelatih. Bila ada masalah soal administrasi, ya ke manajer. Ini biar jalur komunikasinya jelas nantinya. Nantinya, saya harapkan tidak ada lagi telat-telat gaji, dan 60 persen anggaran PSSI untuk disalurkan ke timnas. Di sini saya tidak akan bekerja sendiri. Manajer tim juga punya beberapa tim yang akan membantu saya,” pungkasnya.

Presiden Arema: Aremania Aset Tak Ternilai

ulang tahun arema ke 25Dukungan Aremania terhadap Arema Indonesia dinilai merupakan aset yang tidak ternilai. Penilaian tersebut diungkapkan presiden klub Arema Indonesia Rendra Kresna setelah menyaksikan antusias suporter fanatik Singo Edan itu saat merayakan HUT Arema Indonesia yang ke-25.

“Aremania memang luar biasa. Mereka merupakan aset tak ternilai. Kalau saya nilai kebesaran Arema sama dengan kebesaran Aremania. Tidak ada bedanya. Itulah yang membuat Arema ini berbeda dengan klub-klub profesional lainnya di Indonesia,” kata Rendra Kresna

Makanya, dia mengucapkan banyak terima kasih kepada Aremania yang selama ini memberikan dukungan penuh pada tim Singo Edan. Sehingga klub kebanggaan arek Malang ini tetap eksis sampai saat ini.

Untuk itu, pria yang juga bupati Malang ini berharap Arema dalam perjalanannya ke depan tidak hanya menjadi klub yang profesional. Namun, juga menjadi klub yang maju dan mandiri.

Profesionalitas dan kemandirian klub Arema selama ini dikatakan dia sudah teruji. Alasannya, saat klub-klub lain masih banyak yang menggantungkan pendanaan pada APBD dan investor perorangan, Arema justru sudah selangkah lebih maju lepas dari semua itu.

Lewat pengelolaan yang profesional, kata dia, Arema mampu menggali dana sendiri tanpa tergantung pada instansi formal. Itu semua, kata Rendra yang juga ketua DPD Golkar kabupaten Malang ini, berkat inovasi yang selama ini terus mengalir dan bermunculan dari manajemen Arema dan Aremania.

“Terutama sekali tentunya adalah dukungan Aremania pada Arema yang luar biasa. Mereka benar-benar tidak hanya atraktif, namun juga apresiatif. Mereka paham betul tim yang mana harus mendapat dukungan dan layak didukung,” katanya.

Karena itu selama ini dia mengaku tidak pernah berpikir ada berapa Arema di Malang.

“Sebab, Arema itu yang saya tahu hanya satu, yaitu yang mendapat dukungan riil dari Aremania. Makanya saya bangga pada Aremania yang cerdas, atraktif dan inovatif dalam memberikan dukungannya pada Arema,” pungkasnya.

Timnas Kalah Telak, Fans Terjatuh

Penentuan Timnas U-21 Diundur BesokEmpat orang suporter terjatuh dari tribun saat menyaksikan laga Indonesia vs Jepang dalam lanjutan penyisihan Grup E Piala Asia U-22, Kamis, 12 Juli 2012. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau membantah adanya korban tewas akibat kejadian ini.

Tim Medis PSSI juga baru bisa mengidentifikasi tiga dari empat korban. Mereka adalah wanita bernama Nanda (usia 23 tahun), Novri (usia 22 tahun) dan Eka (usia 16 tahun). Sedangkan satu lagi belum bisa diketahui karena kondisinya tidak sadarkan diri.

“Sementara satu belum diketahui identitasnya karena tak sadarkan diri. Mereka, ketiganya yang diketahui identitasnya adalah warga Pekanbaru,” ujar Taufik Hidayat, dokter yang menangani korban.

Saat ini, korban dirawat di Rumah Sakit Awal Bross. Sedangkan satu yang kondisinya cukup parah dirawat di Rumah Sakit Eka Hospital.

Taufik menceritakan Nanda dan tiga orang lainnya terjatuh dari atas tribun sampai ke basement. Kondisi suporter itu umumnya mengalami patah tulang. “Seperti Nanda, ia patah tulang paha,” kata Taufik.

Sedangkan yang parah adalah korban yang belum diketahui identitasnya. Pria tersebut mengeluarkan darah dari telinga. Dokter sementara memperkirakan ia mengalami patah leher.

Novri juga mengalami patah tulang karena jatuh dari tempat yang cukup tinggi. “Tulang pinggulnya juga cedera. Sedangkan Eka dagunya robek.”

Sementara itu, Kepala Biro Humas Pemprov Riau, Chairul Rizki membenarkan adanya empat orang suporter yang jatuh dari tribun Stadion Utama Riau saat menonton Indonesia melawan Jepang. Namun, Rizki membantah bila ada korban meninggal akibat insiden ini.

“Keempat orang yang jatuh itu sedang dirawat di rumah sakit Awal Bross dan Eka Hospital. Suporter yang mengalami luka parah saat ini sedang dirawat di Eka Hospital,” ujar Rizki.

Indonesia akhirnya kalah 1-5 dari Jepang. Hasil ini membuat peluang Tim Garuda Muda untuk lolos ke putaran final sudah tertutup meski masih menyisakan satu laga lagi melawan Singapura, 15 Juli 2012.

Menpora Himbau Klub Untuk membina Supporter

Penentuan Timnas U-21 Diundur BesokMenteri Pemuda dan Olahraga Andi A. Mallarangeng akhirnya angkat bicara terkait tewasnya sejumlah supporter seusai menonton pertandingan sepak bola.

Selain mengucapkan rasa bela sungkawa, politikus Partai Demokrat itu juga mengajak semua pihak untuk menonton bola dengan jiwa yang damai.

“Yang jelas kami berduka dan prihatin dengan ada lagi suporter bola yang tewas. Satu itu sudah terlalu banyak. Nah itu mari kita mulai berpikir menonton bola dengan bersemangat tapi damai,” kata Andi saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (4/6).

Menurutnya, ada banyak hal yang perlu diperbaiki pascainsiden tersebut. Klub-klub sepak bola harus dapat membina supporter.

Kalau memang melakukan kekerasan harus ditindak secara hukum. Sayangnya ketika dimintai komentarnya terkait insiden tewasnya seorang supporter di Surabaya, ia mengaku belum begitu mengetahui.

“Mengenai bagaimana situasi di Surabaya saya belum dapat laporan secara resmi. Saya harus dapat laporan dulu,” pungkasnya. (*/OL-5)

Penentuan Timnas U-21 Diundur Besok

Penentuan Timnas U-21 Diundur BesokPenentuan pemain yang masuk dalam skuad timnas U-21 akhirnya diundur. Pelatih timnas U-21 Widodo C Putro mengatakan pengunduran tersebut tak lepas dari penambahan jadwal seleksi hingga esok hari.

Pelatih tim nasional U-21, Widodo Cahyono Putro, terus bekerja untuk menyiapkan tim yang akan berlaga dalam turnamen Sultan Hasanah Bolkiah Trophy di Brunei pada 27 Februari hingga 5 Maret mendatang. Widodo pun kembali melakukan pemantauan terhadap 52 pemain yang nantinya akan dikerucutkan menjadi 25 pemain.

“Sudah ada tim bayangan. Sudah ada 75 persen. Namun, untuk saat ini saya belum umumkan karena masih satu kali lagi latihan. Besok kami pemantapan. Saya minta ke PSSI diundur satu hari karena ada dua pemain baru dari Persires Bali Devata,” kata Widodo kepada wartawan seusai melakukan latihan di Lapangan C, Senayan, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Dijadwalkan sebelumnya, hari ini adalah waktu yang ditentukan Widodo untuk memilih 25 pemain timnas U-21 yang akan diterbangkan ke Brunai Darussalam untuk mengikuti kejuaraan Hassanal Bolkiah Thopy 25 Februari sampai 5 Maret 2012. Akan tetapi, Widodo meminta ijin kepada PSSI terkait penambahan waktu seleksi.

“Dan PSSI menginzinkan,” ujarnya.

Widodo menjelaskan, hari ini tim pelatih melakukan pemantauan dengan melihat pertandingan antar pemain, sama seperti yang mereka lakukan, Minggu (8/1/2012) kemarin. Jadi, katanya, tim pelatih lebih mudah melihat kriteria, visi bermain, penempatan posisi, keahlian bermain, kerjasama, individu antar pemain.

“Kalau masalah mental kita belum bisa memberi kesan. Karena dalam seleksi ini pemain banyak yang udah main di liga jadi menurut saya mereka enjoy-lah,” tutur mantan asisten timnas U-23 tersebut.

Widodo kemudian meminta maaf kepada pemain di seluruh Indonesia yang belum mereka panggil dalam seleksi kali ini. Dia mengatakan, pihaknya tidak bisa mendetesi semua dari Indonesia karena waktunya sangat mepet.

“Mungkin di kesempatan yang lain akan dipantau,” tandasnya.

Sumber : Bola Kompas dan Tribunnew

Sudah waktunya PSSI Tegas

Sudah waktunya PSSI TegasSulit dipercaya bangsa yang begitu besar potensi dan sumber daya alamnya kesulitan me manage sepak bola negerinya. Jika para pendiri PSSI dahulu menjadikan sepak bola sebagai salah satu alat pemersatu bangsa ini dalam mencari jati diri kebangsaannya. Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Dan sangat disayangkan penyebab dari semua kekisruhan yang melanda sepakbola nasional itu ternyata disebabkan oleh para pemangku sepak bola itu sendiri, yang menjadikan konflik di tubuh PSSI sebagai permainan dan oleh sebagian kelompok dijadikan ‘kendaraan’ yang bisa mengantar mereka mendapatkan apa yang diinginkan kelompoknya.

Terlepas dari banyaknya tekanan dan warisan peradaban sepak bola yang salah, harus diakui gaya kepemimpinan Profesor Djohar Arifin Husin telah ‘mengorbankan’ wibawa PSSI. Kematangan emosi dan wawasan yg bagus melahirkan gaya memimpin yg cenderung hati-hati. Inilah salah satu kelebihan sekaligus kelemahan gaya memimpin ala Prof. Djohar. Akibatnya disaat revolusi sepak bola Indonesia baru akan menancapkan pondasi awal saja serangan bertubi-tubi dari sisa-sisa rezim lama yang sebagian kalangan mengatakan Barisan Sakit Hati (BSH) gencar merong-rong kepengurusan beliau.

Dalam sepak bola kita saat ini, kebenaran diombang-ambingkan oleh banyaknya data dan fakta yang diputar balik hingga aturan dan tatanan menjadi diragukan keabsahannya. Di masa-masa sebelumnya banyak pelaku sepak bola yang benar-benar ingin berjuang memperbaiki sepakbola nasional berdasarkan kecintaanya pada olah raga ini menyerah, mengibarkan bendera putih tanda tak mampu mendobrak tiran dan kebobrokan yang sangat menggurita sekaligus mengakar. Hanya yang punya kepentingan diluar prestasi sepak bola yang bertahan dalam dunia sepak bola Indonesia, yang lainnya (di luar kelompok itu) tetap eksis sambil menunggu perubahan seiring berjalannya waktu dan pergantian era.

Bahkan seorang Dahlan Iskan yang oleh KPSI (kelompok pengusung KLB) dijadikan calon ketua PSSI pengganti Prof. Djohar Arifin dan pernah terlibat dalam Persebaya dan Mitra Surabaya berkata “ Saya sudah insyaf dari sepak bola, kalaupun saya mau tak mungkin mereka akan memenuhi syarat yang sangat berat yang saya ajukan. Pertama harus mendapat ijin presiden, selain itu agar tidak mewarisi konflik kepentingan semua pengurus PSSI harus dibawah 45 tahun usianya ”.

Maka buta hati nurani kita jika tidak mau mengakui siapa yang bermain dalam konflik di PSSI sekarang ini. Cermatilah tokoh-tokoh yang berada di KPSI, telusuri track record mereka. Adakah diantara mereka yang tidak menjadi bagian rezim lama yang jelas-jelas selama dua periode berkuasa di PSSI tidak melahirkan prestasi apa-apa bahkan liga kita berada di urutan paling bawah tingkat profesionalismenya di tingkat Asia.

Tidak sadar dirikah kita sebagai insan sepakbola siapa sebenarnya pemasung prestasi Timnas? Jika selam ini Garuda tidak mampu terbang tinggi bukan karena sayapnya patah tetapi karena Garuda selama ini berada didalam sangkar yang keahlian terbangnya hanya di pertontonkan sesuai kebutuhan dan kepentingan si pemilik kandang. Garuda yang kita banggakan cuma burung sirkus kawan.

Haruskah revolusi sepak bola gagal?
Tergantung para pemangku PSSI sekarang. Jika tetap lembek, lemot bisa jadi kekuatan rezim lama semakin kuat. Seorang pemimpin di masa revolusi harus punya keberanian, revolusi di tubuh PSSI tidak hanya usai dengan pergantian tampuk pimpinan semata. Revolusi harus menyentuh pada perubahan system. Terkesan aneh jika PSSI takut mengambil sikap tegas disaat legalitas sudah mereka genggam.

PSSI sekarang jelas-jelas sudah diakui AFF, AFC, FIFA, BOPI dan pemerintah. Apa lagi? Yang ditunggu hanyalah sikap tegas dan tindakan. Sudah cukup diplomasi guna mengajak para pembangkang insyaf kembali ke jalan yang benar. Wibawa organisasi olah raga tertua di Indonesia ini sudah saatnya ditegakkan, apalagi FIFA sudah memberi ultimatum hingga 20 Maret 2012 agar PSSI bisa memanjemen segala aktifitas anggotanya dalam satu kesatuan sesuai aturan rumah tangganya. Jika memang tidak mau diajak kembali ke jalan yang benar ,jika para pembangkang memaksa bermain dengan aturannya sendiri dan agar Revolusi sepak bola yang didengung-dengungkan tidak menjadi pepesan kosong semata segala aturan yang mengacu pada ketentuan PSSI dan FIFA harus ditegakkan.

Perubahan tidak hanya sebatas wacana. Kemenangan kubu perubahan di Kongres Luar Biasa di Solo beberapa bulan yang lalu belum menghasilkan juara. Ibarat pertandingan bola dgn sistim home and away, KLB di Solo adalah pertandingan leg pertama. Dan di pertandingan leg kedua (penerapan system serta pelaksanakan program yang menjadi substansi sebenarnya perubahan) rezim lama tidak akan tinggal diam, segala usaha akan mereka lakukan demi menggagalkan rencana dan segala program perubahan yang akan di jalankan oleh pengurus PSSI baru yang mengusung perubahan.

Kalau perlu strategi menyerang total ala sepak bola Belanda akan mereka terapkan, kalah dengan banyak gol di pertandingan kedua tersebut bagi mereka tidak jadi soal. Yang penting menyerang. Meski banyak insan bola yang menertawakan segala sepak terjang BSH, kenyataannya banyak program dari pengurus PSSI sekarang yg terganggu bahkan terhambat.

Pencucian otak oleh kekuatan media yang mereka miliki dan bergulirnya ISL serta Divisi Utama PT. LI sebuah bukti serangan bertubi-tubi yang dilakukan kepada PSSI pimpinan Prof. Djohar. Semoga Profesor Djohar dan pengurus PSSI lainnya tetap bisa menjaga tempo permainan. Dalam pertandingan sepak bola, selamanya bertahan akan bisa mendatangkan kesulitan. Keseimbangan bertahan dan menyerang sangat diperlukan.

Semoga PSSI berani tegas. Hingga mampu memenangkan pertandingan leg kedua ini, yaitu menjalankan semua program kerjanya.

Selamat bekerja Prof, Yakinlah kebenaran akan mengantarkan pada kemenangan.

Penulis:
Wardoyo Achmad
Suporter BERNI Jember

Source : mediasepakbola.com

Persisam Di Permalukan Pelita Jaya Di Kandang Sendiri

Persisam Di Permalukan Pelita Jaya Di Kandang SendiriPersisam secara mengejutkan kalah di kandang untuk pertama kalinya di musim ini. Empat gol The Young Guns yang dipersembahkan oleh Alexander Bajevski (4′), Safee Sali (13′), dan dua gol Greg Nwokolo (27′ dan 45′) hanya mampu dibalas dengan gol Eka Ramdani di awal babak kedua.

Kekalahan ini tentu membuat kubu Persisam merasa sangat kecewa. Namun, asisten pelatih Persisam, Hendri Susilo, mengatakan bahwa timnya tak ingin terlalu larut dalam kekalahan yang dialami hari ini.

“Tentu saja kami kecewa. Tim pelatih dan pemain semua kecewa. Kita bisa bayangkan bagaimana suasana ruang ganti di saat seperti ini,” ungkap Hendri Susilo ketika dihubungi Bolanews.com.

“Namun, kita harus lupakan kekalahan ini dan membuat perubahan di pertandingan selanjutnya. Harus ada progres yang lebih baik ke depannya,” lanjutnya.

Hendri mengaku tak ada masalah berarti dalam kekalahan ini, hanya saja kekalahan ini memang karena beberapa kesalahan yang dilakukan pemain timnya berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Pelita Jaya untuk mencuri gol.

“Tak ada masalah sebenarnya pada pertandingan hari ini. Kekalahan ini pun normal terjadi dalam sepak bola. Hanya saja itu dianggap menjadi masalah karena kami bermain di kandang dan kalah besar pula,” ungkap Hendri.

“Secara permainan kekalahan ini terjadi karena kesalahan pemain kami sendiri yang tidak disiplin dalam menjalankan taktik sehingga pemain Pelita berhasil merangsek masuk dan mencetak gol,” lanjutnya.

Sumber : bolanews.com

Lawan Persisam Putra, Pelita Targetkan Poin

Lawan Persisam Putra, Pelita Targetkan PoinPelita Jaya mengusung target kongkret pada lawatan ke Samarinda. Tim besutan Jajang Nurjaman itu bertekad mencuri poin dalam laga lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2011/2012 kontra Persisam Putra Samarinda Jumat 13 Oktober 2012 besok.

Pelita mendapatkan jatah menguji coba Stadion Segiri Samarinda pagi tadi. Jajang menuturkan, secara psikologis timnya sangat siap menghadapi Persisam Putra.

Semua pemain dalam kondisi bugar. Dua kekuatan utama Pelita di lini depan yakni Greg Nwokolo dan Safee Sali dalam kondisi fit dan siap menggempur pertahanan Persisam. Begitu juga dengan para penggawanya di lini tengah dan belakang.

“Kami datang ke Samarinda ini bukan tanpa persiapan. Kami menargetkan bisa mendulang poin. Mau seri atau menang, yang jelas kami memburu poin,” ujar Jajang.

Jajang melanjutkan, mengenai pos yang ditinggalkan oleh Diego Michiels sama sekali tidak ada kendala. Di lini tersebut ada Erick Setiawan dan Ruben Wuarbanaran yang juga tak kalah hebat dalam bertahan maupun menyerang. Jadi, tegas Jajang, kepergian Diego tidak menimbulkan masalah di pos yang ditinggalkannya. Dia justru akan mengeksplore kemampuan para pemainnya di pos tersebut.

“Sama sekali tidak ada masalah. Diego juga baru beberapa kali bermain secara tim. Ada dua pemain lain yang kualitasnya juga tak jauh berbeda,” ungkapnya.

Di Samarinda, tim yang bermarkas di Karawang, Jawa Barat, itu menginap di Swiss-Belhotel. Hotel tersebut berada di dalam kota dan tak terlalu jauh dari Stadion Segiri Samarinda, tempat perhelatan pertandingan bergengsi itu.Nah, kemungkinan, Pelita juga akan tetap ber-home base di hotel bintang 4 itu ketika melakukan persiapan pertandingan melawan Mitra Kukar.

Sumber : vivanews

Persiba Tak Gentar Lawan Persibo

Persiba Tak Gentar Lawan PersiboPertandingan Persibo Bojonegoro kontra Persiba Bantul bakal menjadi momen reuni bagi sejumlah pemain. Ada dua pemain di kubu Persiba yang musim lalu sempat mewarnai tim utama Persibo, yakni Eduardo Bizarro dan Slamet Nur Cahyo.

Keduanya bakal menghadapi tekanan dari Boromania ketika Persiba melawan ke markas Persibo, Stadion Letjen H Soedirman, Sabtu (14/1) besok. Diprediksi keduanya juga menjadi referensi bagi Pelatih Persiba M Basri untuk mendapatkan informasi soal kekuatan tuan rumah.

Eduardo Bizarro selama di Liga Primer Indonesia (LPI) menjadi bek tangguh sekaligus tandem Aries Tuansyah. Ia semula diperkirakan bakal bertahan di Bojonegoro musim ini, namun belakangan kontraknya tak diperpanjang setelah Laskar Angling Dharma memakai pelatih Paulo Camargo.

Namun, walau telah mengetahui kualitas Eduardo maupun Slamet Nur Cahyo, kubu tuan rumah belum mengetahui secara detil kekuatan yang dimiliki M Basri. Hanya sejumlah pemain saja yang menjadi perhatian Persibo, salah satunya Wahyu Wijiastanto yang juga permain terbaik Divisi Utama musim lalu.

Persibo dan Persiba juga belum pernah bertemu di kompetisi level satu dalam beberapa musim terakhir. “Kami belum paham benar kekuatan Persiba. Hanya saja sudah ada informasi tentang sejumlah pemain yang memberikan pengaruh besar di tim,” ungkap Asisten Pelatih Persibo Wanderley Junior.

Terlepas dari kekuatan teknis, faktor yang memicu kewaspadaan tim oranye adalah motivasi dan semangat bertanding Persiba. Maklum, sebagai tim debutan di Indonesian Premier League (IPL) mereka tidak ingin numpang lewat di kompetisi level satu musim ini.

Wanderley membenarkan semangat bertanding Persiba layak menjadi perhatian utama. Walau berstatus debutan, pihaknya tidak akan menyepelekan ancaman yang mungkin ditebar tim tamu. “Persiba tak beda dengan lawan lainnya. Kami sangat serius menghadapi mereka,” tambahnya.

Kemenangan 5-0 atas Persijap Jepara di laga sebelumnya, kini melambungkan mental bertanding Samsul Arif dkk. Manajer Persibo Nur Yahya menganggap pertandingan besok manjadi ladang potensial untuk menambah koleksi angka sekaligus memperbaiki posisi di klasemen.

“Dua pertandingan kandang beruntun idealnya kami jadikan kesempatan mendapatkan angka maksimal. Dengan dua kemenangan, kami akan lebih bersemangat di pertandingan away nanti. Berapa pun skornya, Persibo hanya ingin tiga poin,” kata Nur Yahya.

Sementara, Persiba sendiri juga tidak banyak paham soal kekuatan tuan rumah yang dihadapi besok. Pelatih M Basri tidak mengetahui secara spesifik bagaimana kekuatan milik Paulo Camargo. Dengan demikian Persiba bakal mengandalkan semangat bertanding di Bojonegoro besok.

“Saya kurang paham bagaimana kekuatan Persibo dan saya kira Persibo juga kurang paham kekuatan kami. Kami sudah siap dan ingin mendapatkan poin di Bojonegoro. Saya harap pemain tidak minder dengan permainan Persibo yang cukup bagus di pertandingan sebelumnya,” pungkas M Basri.

Sumber : okezone.com

Lawan Persiraja, Arema Targetkan 3 Poin

Lawan Persiraja, Arema Targetkan 3 PoinPelatih Arema FC Abdulrahman Gurning ternyata masih membutuhkan pemain asingnya sebagai bekal menghadapi Persiraja Banda Aceh, Sabtu (14/1). Buktinya, semua pemain asing kemarin diusung ke Tanah Rencong.

Membawa 24 pemain, Gurning harus meninggalkan sejumlah pemain berkualitas timnas seperti Dendi Santoso dan Ahmad Farizi. Sedangkan tiga pemain asing yang sebelumnya hanys ebagai penghias tribun, Noh Alam Shah, Roman Chmelo dan Muhammad Ridhuan, masuk dalam rombongan.

Namun belum ada keterangan resmi dari Abdulrahman Gurning apakah ketiganya bakal menghinasi tim setelah diparkir kontra Persija Jakarta lalu. Gurning mengatakan dirinya tidak mudah dalam memilih pemain dan belum menetapkan siapa yang bakal bercokol sebagai starter.

“Saya harus memilih 24 pemain dari 30 pemain yang telah didaftarkan. Saya maklum pastinya ada yang kecewa karena tidak dibawa. Tapi bagaimana pun saya harus mengambil keputusan dan pemain harus memahami itu,” ungkap Gurning setiba di Aceh kemarin (12/1/2012).

Walau belum menentukan pemain inti, namun Gurning bakal mempertimbangkan ketiga pemain asingnya tersebut masuk ke tim utama. Sebab pertandingan menghadapi Persiraja bukan perkara mudah walau hanya untuk membidik satu angka.

Terbukti saat menghadapi Persija, Singo Edan kehilangan kesembangan dengan absennya ketiga pemain itu. Noh Alam Shah, atau akrab disapa Along, belum tergantikan dalam fungsinya sebagai target man. Jaya Teguh Angga yang diplot mengganti tugasnya ternyata gagal total.

Terlepas dari itu, Gurning ternyata membawa semua pemain yang masuk tim utama pekan lalu. Pemain yang telah melakoni debut seperti Jaya Teguh Angga, Putu Waringin Jati, Putra Habibi maupun Fariz Bagus Dinata, semuanya ikut dibawa ke Banda Aceh.

Media Officer Arema FC Noor Ramadhan mengatakan kondisi tim yang berangkat ke Banda Aceh cukup kondusif. Walau sebelumnya sempat diganggu kegelisahan pemain karena ada yang terlempar dari tim utama, ia mengatakan motivasi jelang pertandingan masih terjaga.

“Kami tak menutup diri bahwa pasti ada kegelisahan pemain terkait penyatuan tim yang dilakukan beberapa waktu lalu. Ada pemain yang masuk tim utama dan tidak. Itu sepenuhnya wewenang pelatih. Namun pemain menyadari kepentingan timlah yang paling utama,” ujarnya.

Ia menambahkan, tim yang dibawa ke Banda Aceh telah melalui pertimbangan matang dari pelatih. Kegelisahan pemain yang tidak dibawa menurutnya wajar karena tidak mungkin semua pemain dibawa dan masuk ke line up. Kegelisahan itu menurutnya sebagai gambaran semangat pemain yang ingin masuk tim.

“Kami memandang positif kalau ada pemain yang gelisah karena tidak dibawa. Itu menandakan semangat mereka mereka untuk dilibatkan di tim masih ada. Namun terkadang mereka harus bersabar karena pelatih yang paham kebutuhan tim,” tandas Noor.

Nama-nama pemain yang dibawa ke Aceh antara lain :

Penjaga Gawang: Aji Saka, Kurnia Meiga, Dede Sulaiman

Pemain Belakang: Leonard Tupamahu, Usep, Fariz Bagus, Gunawan, Putra Habibie, Choirul Anam, Tomy Zaelany, Rigan Agachi

Pemain Tengah: M Ridhuan, Roman Chmleo, Esteban Guilen, Legimin Raharjo, Hendro Siswanto, Ahmad Amiruddin, Putut Wringin Jati, Herman Romasyah, Eka Hera.

Pemain Depan: Noh Alamshah, TA Musafri, Jaya Teguh Angga, Sunarto.

Sumber : okezone.com, bola .net