Sudah waktunya PSSI Tegas

Sudah waktunya PSSI TegasSulit dipercaya bangsa yang begitu besar potensi dan sumber daya alamnya kesulitan me manage sepak bola negerinya. Jika para pendiri PSSI dahulu menjadikan sepak bola sebagai salah satu alat pemersatu bangsa ini dalam mencari jati diri kebangsaannya. Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Dan sangat disayangkan penyebab dari semua kekisruhan yang melanda sepakbola nasional itu ternyata disebabkan oleh para pemangku sepak bola itu sendiri, yang menjadikan konflik di tubuh PSSI sebagai permainan dan oleh sebagian kelompok dijadikan ‘kendaraan’ yang bisa mengantar mereka mendapatkan apa yang diinginkan kelompoknya.

Terlepas dari banyaknya tekanan dan warisan peradaban sepak bola yang salah, harus diakui gaya kepemimpinan Profesor Djohar Arifin Husin telah ‘mengorbankan’ wibawa PSSI. Kematangan emosi dan wawasan yg bagus melahirkan gaya memimpin yg cenderung hati-hati. Inilah salah satu kelebihan sekaligus kelemahan gaya memimpin ala Prof. Djohar. Akibatnya disaat revolusi sepak bola Indonesia baru akan menancapkan pondasi awal saja serangan bertubi-tubi dari sisa-sisa rezim lama yang sebagian kalangan mengatakan Barisan Sakit Hati (BSH) gencar merong-rong kepengurusan beliau.

Dalam sepak bola kita saat ini, kebenaran diombang-ambingkan oleh banyaknya data dan fakta yang diputar balik hingga aturan dan tatanan menjadi diragukan keabsahannya. Di masa-masa sebelumnya banyak pelaku sepak bola yang benar-benar ingin berjuang memperbaiki sepakbola nasional berdasarkan kecintaanya pada olah raga ini menyerah, mengibarkan bendera putih tanda tak mampu mendobrak tiran dan kebobrokan yang sangat menggurita sekaligus mengakar. Hanya yang punya kepentingan diluar prestasi sepak bola yang bertahan dalam dunia sepak bola Indonesia, yang lainnya (di luar kelompok itu) tetap eksis sambil menunggu perubahan seiring berjalannya waktu dan pergantian era.

Bahkan seorang Dahlan Iskan yang oleh KPSI (kelompok pengusung KLB) dijadikan calon ketua PSSI pengganti Prof. Djohar Arifin dan pernah terlibat dalam Persebaya dan Mitra Surabaya berkata “ Saya sudah insyaf dari sepak bola, kalaupun saya mau tak mungkin mereka akan memenuhi syarat yang sangat berat yang saya ajukan. Pertama harus mendapat ijin presiden, selain itu agar tidak mewarisi konflik kepentingan semua pengurus PSSI harus dibawah 45 tahun usianya ”.

Maka buta hati nurani kita jika tidak mau mengakui siapa yang bermain dalam konflik di PSSI sekarang ini. Cermatilah tokoh-tokoh yang berada di KPSI, telusuri track record mereka. Adakah diantara mereka yang tidak menjadi bagian rezim lama yang jelas-jelas selama dua periode berkuasa di PSSI tidak melahirkan prestasi apa-apa bahkan liga kita berada di urutan paling bawah tingkat profesionalismenya di tingkat Asia.

Tidak sadar dirikah kita sebagai insan sepakbola siapa sebenarnya pemasung prestasi Timnas? Jika selam ini Garuda tidak mampu terbang tinggi bukan karena sayapnya patah tetapi karena Garuda selama ini berada didalam sangkar yang keahlian terbangnya hanya di pertontonkan sesuai kebutuhan dan kepentingan si pemilik kandang. Garuda yang kita banggakan cuma burung sirkus kawan.

Haruskah revolusi sepak bola gagal?
Tergantung para pemangku PSSI sekarang. Jika tetap lembek, lemot bisa jadi kekuatan rezim lama semakin kuat. Seorang pemimpin di masa revolusi harus punya keberanian, revolusi di tubuh PSSI tidak hanya usai dengan pergantian tampuk pimpinan semata. Revolusi harus menyentuh pada perubahan system. Terkesan aneh jika PSSI takut mengambil sikap tegas disaat legalitas sudah mereka genggam.

PSSI sekarang jelas-jelas sudah diakui AFF, AFC, FIFA, BOPI dan pemerintah. Apa lagi? Yang ditunggu hanyalah sikap tegas dan tindakan. Sudah cukup diplomasi guna mengajak para pembangkang insyaf kembali ke jalan yang benar. Wibawa organisasi olah raga tertua di Indonesia ini sudah saatnya ditegakkan, apalagi FIFA sudah memberi ultimatum hingga 20 Maret 2012 agar PSSI bisa memanjemen segala aktifitas anggotanya dalam satu kesatuan sesuai aturan rumah tangganya. Jika memang tidak mau diajak kembali ke jalan yang benar ,jika para pembangkang memaksa bermain dengan aturannya sendiri dan agar Revolusi sepak bola yang didengung-dengungkan tidak menjadi pepesan kosong semata segala aturan yang mengacu pada ketentuan PSSI dan FIFA harus ditegakkan.

Perubahan tidak hanya sebatas wacana. Kemenangan kubu perubahan di Kongres Luar Biasa di Solo beberapa bulan yang lalu belum menghasilkan juara. Ibarat pertandingan bola dgn sistim home and away, KLB di Solo adalah pertandingan leg pertama. Dan di pertandingan leg kedua (penerapan system serta pelaksanakan program yang menjadi substansi sebenarnya perubahan) rezim lama tidak akan tinggal diam, segala usaha akan mereka lakukan demi menggagalkan rencana dan segala program perubahan yang akan di jalankan oleh pengurus PSSI baru yang mengusung perubahan.

Kalau perlu strategi menyerang total ala sepak bola Belanda akan mereka terapkan, kalah dengan banyak gol di pertandingan kedua tersebut bagi mereka tidak jadi soal. Yang penting menyerang. Meski banyak insan bola yang menertawakan segala sepak terjang BSH, kenyataannya banyak program dari pengurus PSSI sekarang yg terganggu bahkan terhambat.

Pencucian otak oleh kekuatan media yang mereka miliki dan bergulirnya ISL serta Divisi Utama PT. LI sebuah bukti serangan bertubi-tubi yang dilakukan kepada PSSI pimpinan Prof. Djohar. Semoga Profesor Djohar dan pengurus PSSI lainnya tetap bisa menjaga tempo permainan. Dalam pertandingan sepak bola, selamanya bertahan akan bisa mendatangkan kesulitan. Keseimbangan bertahan dan menyerang sangat diperlukan.

Semoga PSSI berani tegas. Hingga mampu memenangkan pertandingan leg kedua ini, yaitu menjalankan semua program kerjanya.

Selamat bekerja Prof, Yakinlah kebenaran akan mengantarkan pada kemenangan.

Penulis:
Wardoyo Achmad
Suporter BERNI Jember

Source : mediasepakbola.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *