Supporter – Laga Derby d’Ngalam menjadi laga istimewa dalam Indonesia Super League (ISL) musim ini. Dari segi, bisnis laga itu menjadi magnet di pentas nasional terbukti dengan disiarkan televisi nasional secara live. Dalam hukum ekonomi sudah barang tentu animo di tingkat lokal lebih luar biasa lagi, terbukti dari laris manisnya board iklan.
Papan-papan iklan yang berada di sekeliling lapangan biasa disebut sebagai advertorial board (a-board). Papan iklan dipinggir lapangan menjadi ukuran betapa bergengsinya laga tertentu di stadion. Perlu dicatat, selama ini laga Arema selalu diminati oleh pelaku bisnis.
Namun kali ini, ketika Arema bertanding dengan kawan satu kotanya, Persema, tiba-tiba animo meningkat drastis. Di pinggir lapangan ada sekitar 36 advertorial board untuk panitia lokal dan jatah PSSI sekitar 12 board. 12 jatah PSSI. Jarang sekali jatah board panitia lokal ludes dipesan pelaku bisnis.
‘’Laga kali ini, selain tiket ludes, board juga ludes, advertorial board terjual habis,’’ terang Ketua Panpel Abdul Haris.
Walhasil beberapa kali tendangan bola liar pemain selalu mental di papan iklan yang berbeda-beda. Advertorial board yang menjadi jatah Panpel lokal memang telah dipesan pebisnis sejak beberapa hari sebelum pertandingan.
‘’Seluruhnya habis, pemasang sampai antre-antre, kami bahkan menolak 10 board iklan,’’ tegas Haris.
Bayangkan saja, panpel sampai menolak board iklan yang berharga tiga juta rupiah hingga lima juta rupiah. Bila satu board saja dihitung Rp 3 juta, maka dalam satu laga panpel menolak uang Rp 30 juta. Tapi rupanya 10 board yang ditolak dalam laga Arema-Persema akan dipasang dalam laga berikutnya. ‘’Board yang mengantre akan kita pasang dalam laga selanjutnya,’’ Haris.
Sedangkan 36 advertorial board masing-masing memiliki harga tiga juta sampai lima juta. Untuk diketahui, rekor board paling mahal masih dipegang oleh Aremania. Advertorial milik Aremania di pinggir lapangan berlogo support Arema dipatok seharga Rp 5 juta.
‘’Board paling mahal lima juta, milik Aremania harganya juga segitu itu,’’ ungkap pria yang menjabat sebagai Kepala UPTD Stadion Kanjuruhan itu.
Yang paling fantastis pula, baru kali ini Panpel terpaksa membuka secondary board. Papan iklan tambahan itu ditempatkan di tembok tribun tempat Yuli Sumpil dan Aremania kreator yel-yel berkumpul. Di tembok itu ada sekitar sembilan secondary board yang terpasang berderet. ‘’Itu iklan salah satu distro lokal, kita jual obral per board Rp 500 ribu,’’ imbuh Haris.
Walhasil, selain menonton pertandingan menegangkan di stadion Kanjuruhan, Aremania juga disuguhi parade iklan. Namun Aremania patut berbangga, pasalnya baru kali ini supporter di Indonesia membeli board paling mahal di lapangan. Bukannya narsis, namun board itu bukti dari fanatisme Aremania terhadap tim kebanggaannya Arema.
Setiap kali laga di stadion kanjuruhan berlangsung, board milik Aremania mewarnai kerasnya pertandingan. Board Aremania turut mempermanis pertandingan Arema versus tim lain. Papan iklan milik Arema itu memang manis, ibarat pengantin menjadi lambang cinta yang tampak dimata.
Kisah cinta antara Arema dan Aremania tak cukup dipandang lewat board yang telah terpasang dipinggir lapangan. Iwan Fals pernah bernyanyi bahwa tujuan bukan utama, yang paling penting adalah prosesnya.
Papan iklan di pinggir lapangan itu dihasilkan melalui proses luar biasa, yang paling kentara ngamen di jalanan seluruh penjuru kota. Itu amat menyentuh, karena semua berjalan alami, ibarat janji sepasang kekasih. (bagus ary wicaksono/malangpost)









[...] kekuatan besar di belakang mereka yang selalau siap akan membantu.Aremania juga tercatat sebagai supporter pertama di Indonesia yang mampu mensponsori team. dengan membeli Papan iklan di [...]
[...] kekuatan besar di belakang mereka yang selalau siap akan membantu.Aremania juga tercatat sebagai supporter pertama di Indonesia yang mampu mensponsori team. dengan membeli Papan iklan di [...]